Perayaan Ekaristi Minggu ADVEN 1: Hendaklah kamu selalu siap siaga

Tidak terasa pada akhir November tahun 2022, seluruh umat katolik sedunia memasuki masa penantian kedatangan Tuhan (Masa Adven). Dalam Buku Panduan Adven Lingkungan 2022 KAS, Berjalan Bersama: Semakin Katolik, Semakin Apostolik, “Minggu Adven Pertama: merupakan masa penantian kedatangan Kristus yang kedua, yakni kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Ditandai dengan menyalakan lilin ungu yang pertama.”

Sejalan dengan pernyataan di atas, homili dalam Perayaan Ekaristi Minggu Adven I sangat relate dengan makna dari Minggu Adven I. Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Albertus Agung Jetis (27/11/2022, 08.00 WIB) dipimpin oleh Romo Paulus Erwin Sasmito, Pr (Romo Pendamping Para Frater di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta).

(Misa Online 27/11/2022, Pk 08.00 WIB | MINGGU ADVEN I | GEREJA ST. ALBERTUS AGUNG JETIS: https://www.youtube.com/watch?v=ftBS2KIzXB0&t=670s&ab_channel=KomsosJetis)

Dalam homilinya, Romo Erwin menyinggung kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya yang sering disebut sebagai hari kiamat sebagai misteri/tidak ada yang tahu. Bahkan sebenarnya pada masing-masing dari kita memiliki hari kiamat yakni pada hari kematian. Sebenarnya kita diharapkan untuk selalu siap sedia akan hari kematian kita. Tetapi, seringkali kita seenaknya sendiri akan hidup, istilahnya “ngawur”. Kita semaunya mempergunakan waktu untuk pesta pora ataupun hal-hal yang tidak penting. Padahal, Tuhan dengan bebas memberikan kita waktu 24 jam dalam sehari.

Maka, muncul pertanyaan singgungan dari Romo Erwin: “Kalau hari ini hari terakhir dalam hidup kita, apa yang akan kita lakukan?” Mungkin ada yang ingin berbuat baik, ingin mengaku dosa, ingin meminta maaf kepada musuh, atau bahkan ingin lebih menyayangi orang-orang terdekat. Hal ini sama dengan isi bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma (Roma 13:11-14a) yang menyampaikan 3 hal yang sebaiknya kita lakukan untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan, yakni:

  1. Jangan dalam pesta pora dan kemabukan; kita diajak untuk hidup dalam jalan terang & sering berefleksi.
  2. Jangan dalam percabulan dan hawa nafsu; kita diajak untuk sedikit-demi sedikit menanggalkan percabulan dan hawa nafsu yang terlihat sulit untuk dilakukan.
  3. Jangan dalam perselisihan dan iri hati; kita diajak untuk hidup dalam damai pada Tuhan & sesama.

Pertanyaan terakhir yang sekali lagi ditegaskan oleh Romo Erwin dalam homilinya: “Seandainya Tuhan datang sewaktu-waktu: apakah kita siap untuk hidup dalam terang? Seandainya hari ini hidup terakhir: apakah aku mau hidup dalam kasih & terang Yesus Kristus?

.
.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi Pendikkat USD)

.
.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here