Renungan Harian Katolik Hari Ini 8 Juli 2023, Bacaan Injil Matius 9:14-17 (baca Alkitab – klik disini)
Bacaan I: Kej. 27:1-5.15-29; Mazmur: 135:1-2.3-4.5-6; R:3a; PEKAN BIASA XIII (H); St.Eugenius III; St.Gregorius Grassi; Marie Hermine, dkk.;
Sekali peristiwa, datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan bertanya, “Kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan tiba waktunya mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.
Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru, dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya.”
.

.
Renungan Harian Katolik Hari Ini 8 Juli 2023, Bacaan Injil
Tradisi dan aturan adalah buatan manusia, tetapi Tuhan bisa mempunyai kehendak yang sama sekali berbeda. Tidak mungkin memaksakan aturan manusiawi pada kehendak Tuhan. Yang terpenting adalah memahami apa rencana Tuhan di balik kejadian-kejadian yang tidak berjalan sesuai pemikiran manusia.
Kita cenderung secara harafiah ‘mengikuti aturan’, namun dengan begitu kita mungkin kehilangan saat-saat rahmat yang mungkin mengubah prasangka kita atas penyelenggaraan ilahi. Ada kalanya aturan manusiawi dan kebiasaan yang selama ini berjalan harus ditinjau kembali dalam terang rencana Tuhan yang jauh lebih indah bagi kita semua.
Karena berdosa, umat Israel dibuang. Namun, jika bertobat, mereka tidak akan hidup lagi sebagai orang buangan, tetapi sebagai orang yang memiliki tanah, kebun, anggur, dan makanan buah yang lebat. Salah satu cara bertobat adalah berpuasa. Orang Yahudi berpuasa dua kali seminggu.
Semasa Yesus hidup, murid-Nya tidak berpuasa, karena Yesus, Sang Pengantin, sedang berada bersama mereka. Istilahnya, mereka sedang gembira dalam ‘pesta kawin.’ Namun, sesudah Yesus wafat dan bangkit, para murid berpuasa. Dalam berpuasa, bukan penampilan luar yang penting, melainkan pertobatan batin. Yang utama bukan kuantitas, melainkan kualitas. Semoga kita semakin memahami bahwa aturan yang dibuat mengajak kita semakin menghayati ajaran Yesus.
.
Ya Allah, Engkau telah memberikan kepada kami ajaran, tradisi, dan aturan. Bantulah kami agar kami tidak hanya melakukannya, tetapi juga semakin menghayati dan menghidupinya. Amin.
.
Sumber renungan: Ziarah Batin 2023, OBOR Indonesia
Baca Juga (KLIK):
.
.









